PROPOSAL RISET


ditulis oleh :  
  |   (pba.inaifas.ac.id | diposting - 1 tahun lalu)
0 Comments
0

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB BERBASIS LINGUISTIK KONTRASTIF

Studi Multi-Kasus Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Linguistik Kontrastif di PTKI Se-Kabupaten Jember

Fina Aunul Kafi, M.Pd.I

IAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember

Pendahuluan

Bahasa Arab merupakan bahasa yang digunakan dalam kencah internasional. Menurut catatan Ṭuʻaymah (1986), sejak tahun 1983 bahasa Arab resmi menjadi bahasa yang digunakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organiasi internasional lainnya. Di Indonesia bahasa Arab digunakan dan dipelajari menurut kapasitasnya selain sebagai bahasa internasional juga sebagai bahasa agama Islam karena mayoritas penduduknya muslim.

Mencermati peran penting bahasa Arab ini, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia mamasukkan bahasa Arab sebagai pelajaran penting untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Islam. Di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), bahasa Arab menjadi matakuliah wajib karena menjadi penciri perguruan tinggi Islam.

Menurut penuturan sebagian besar mahasiswa PTKI, bahasa Arab dianggap bahasa asing tersulit dengan kompleksitas materinya, tidak semudah mempelajari bahasa asing lain seperti bahasa Inggris. Alasan ini tidak tanpa sebab. Menurut analisa penulis, penyebab-penyebab tersebut di antaranya adalah (1) mahasiswa PTKI memiliki latar belakang studi yang beragam; (2) pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan dirasa berat bagi mereka; (3) motivasi mereka dalam mempelajari bahasa Arab tergolong rendah akibat stigma “sulit” yang melekat dalam mempelajari bahasa Arab dibanding dengan mempelajari bahasa asing lainnya seperti bahasa Inggris; (4) struktur gramatika bahasa Arab yang dipelajari jauh dari cara berpikir kebanyakan orang Indonesia sehingga untuk menselaraskan paradigma linguistik bahasa ibu terlampau sulit bagi mereka yang awam dengan bahasa kedua; dan (5) konten bahasa Arab yang mereka pelajari bertema jauh dari konteks yang sedang mereka hadapi atau yang mereka butuhkan. Ketidaksesuaian materi pelajaran bahasa Arab dengan kebutuhan mereka ini menghambat pertumbuhan kompetensi mereka dengan baik.

Di antara cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah berpijak pada linguistik kontrastif. Linguistik kontrastif atau yang biasa disebut dengan analisis kontrastif menawarkan kemudahan dalam mempelajari bahasa asing, tak terkecuali bahasa Arab. Secara bahasa, Richard (1989) mengatakan kata contrastive diambil dari kata kerja to contast yang memiliki arti to set in opposition in order to show unlikeness; compare by observing differences (Nur, 2016, p. 65). Sedangkan secara istilah menurut Ṭuʻaymah (1989), “Analisis kontrastif adalah studi perbandingan yang dilakukan oleh peneliti terhadap dua bahasa atau lebih dengan cara menjelaskan unsur-unsur kesepadanan, keserupaan, dan perbedaan pada masing-masing bahasa” (p. 51).

Dari penjelasan tersebut linguistik kontrastif dapat digambarkan sebagai suatu model analisa bahasa dengan asumsi bahwa bahasa dapat diperbandingkan secara sinkronis, yaitu menela’ah bahasa berdasarkan kesejamanan dengan menggunakan data yang nyata pada saat itu. Dengan pendekatan kontrastif ini akan diperoleh karakteristik masing-masing bahasa dan melalui studi kontastif ini juga akan dapat mengungkapkan bahwa perbedaan budaya antara budaya bahasa pertama dan bahasa kedua berdampak pada perbedaan perwujudan bahasa.

Dalam ranah tujuan, Langacker (1972) berpendapat bahwa linguistik kontrastif bertujuan mengidentifikasi segi-segi perbedaan atau ketidaksamaan yang kontras antara dua bahasa atau lebih yang diperbandingkan, sedangkan kesamaan-kesamaannya tidak diperhatikan karena persaman-persamaan dalam bahasa merupakan hal biasa atau sudah umum.

Ṭuʻaymah (1989) menambahkan, analisis kontrastif ini bertujuan untuk memprediksi kesulitan yang dihadapi para pelajar ketika mempelajari bahasa asing, karena itu ia memiliki manfaat yang di antaranya adalah untuk membuat buku ajar dan bahan ajar yang sesuai, membantu persiapan tes kebahasaan, dan sebagainya. 

Mengenai sejarah munculnya linguistik kontrastif ini, Nur (2016) mensinyalir dipicu oleh tuntutan pedagogis atau tujuan praktis pengajaran bahasa. Kesulitan belajar bahasa kedua (bahasa asing) serta kesalahan berbahasa kedua yang dialami oleh peserta didik menyebabkan adanya tuntutan perbaikan pengajaran bahasa asing tersebut karena kebiasaan dalam berbahasa ibu sangat berpengaruh terhadap pembelajaran bahasa kedua.

Terkait hal itu, Lado (1951) memberikan penjelasan bahwa unsur-unsur yang sama dalam bahasa ibu dan bahasa kedua sangat menunjang dalam pembelajaran bahasa kedua. Sebaliknya, unsur-unsur yang berbeda dalam bahasa ibu dan bahasa kedua menimbulkan kesulitan belajar bagi peserta didik. Kesulitan belajar inilah yang menjadi salah satu sumber kesalahan bahasa kedua.

Untuk memudahkan proses pembelajaran bahasa, ʻUṣailī (2002) memberi saran agar pengajaran bahasa didahului dengan studi analisis kontrastif antara bahasa tujuan dan bahasa ibu. Materi-materi yang disajikan dalam buku ajar disusun berdasarkan hasil analisis kontrastif untuk membedakan unsur persamaan dan perbedaan kedua bahasa, lalu fokus pada unsur perbedaan kedua bahasa tersebut sebagai unsur-unsur yang sulit bagi pelajar sebagai dampak dari intervensi sistem bahasa ibu terhadap pemerolehan bahasa tujuan.

Ada empat langkah metode yang ditawarkan Di Pietro (1971), yaitu (1) mengumpulkan objek data yang dimaksud; (2) menghadirkan bandingannya dalam satuan lingual yang sama dalam bahasa lain melalu terjemah (transfer); (3) mengidentifikasi varian-varian kontras yang ada; (4) merumuskan kontras-kontras ke dalam kaidah (Nur, 2016, p. 68). Untuk mengawali memahami ini dalam tabel berikut digambarkan analisis kontrastif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab secara sederhana:

Baca juga :  PROPOSAL DESERTASI

Bentuk analisis kontrastif dan perumusan

antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab dalam bentuk nominal

Bahasa Indonesia Bahasa Arab Rumus
Saya seorang pelajar أنا طالب [اسم + اسم]
Dia seorang pengajar هو مدرس
Fatimah seorang arsitek فاطفة مهندسة

Bentuk analisis kontrastif dan perumusan

antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab dalam bentuk verbal

Bahasa Indonesia Bahasa Arab Rumus
Saya menulis surat أنا أكتب الرسالة [اسم + فعل + مف]
Dia mengendarai mobil هو يركب السيارة
Kamu makan ikan أنت تأكل السمك

Penggambaran melalui perumusan tersebut dapat diterapkan dalam medan teks yang sebanding sehingga dapat memudahkan pelajar untuk memahami bahasa Arab bagi usia remaja dan dewasa pada tingkat pemula. Nur (2016) menuturkan bahwa dengan adanya persamaan-persamaan bahasa membuat proses belajar bahasa kedua akan lebih lancar dan lebih mudah, sebaliknya dengan adanya perbedaan-perbedaan bahasa maka proses belajar berjalan lambat dan terhambat. Kesimpulan tersebut tidak keliru menimbang adanya keseimbangan perangkat berpikir linguistik yang berpijak pada persamaan antar bahasa.

Untuk mengkaji lebih dalam terkait pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif ini diperlukan penelitian yang melibatkan banyak partisipan yang terdiri dari mahasiswa PTKI, lembaga pendidikan ini dipilih karena mengusung bahasa Arab sebagai salah satu matakuliah wajib. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian, PTKI yang dipilih adalah se-Kabupaten Jember meliputi IAIN Jember, STAI Al-Qodiri, dan IAI Al-Falah As-Sunniyyah. Menimbang lingkup studi penelitian yang luas dan keinginan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan karakteristik implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di tiap PTKI tersebut, metode penelitian deskriptif kualitatif dengan desain penelitian studi multi-kasus sangat cocok digunakan dalam penelitian ini.  

Berdasarkan deskripsi di atas, penelitian ini penting dilakukan karena:

  1. Linguistik kontrastif dapat mengungkap dan memetakan perbedaan dan persamaan antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia menurut kaidah sebagai karakteristik masing-masing bahasa serta menemukan rumus-rumus gramatika dasar yang tepat dari persamaan tersebut.
  2. Pendekatan kontrastif dapat menyibak perbedaan budaya (antara budaya bahasa Indonesia dan Arab) yang berimplikasi pada perbedaan-perbedaan perwujudan bahasa.
  3. Pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan atau role mode untuk pembelajaran bahasa Arab, penyusunan buku ajar bahasa Arab, dan mengurangi kesulitan atau kesalahan dalam menggunakan bahasa Arab dalam komunikasi lisan maupun tulisan.
  4. Dapat memberikan motivasi kepada para mahasiswa dalam mempelajari bahasa Arab.
  5. Pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif ini dapat membantu mahasiswa di bidang penerjemahan, baik dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab atau sebaliknya.

Review Literatur

Terdapat penelitian sejenis sebelum penelitian ini dilakukan, namun ada sejumlah perbedaan menonjol dalam penelitian-penelitian berikut dengan penelitian yang akan dilakukan. Berikut ini penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat penulis dokumentasikan:

  1. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Iin Kustiani (2015) tentang “Pembelajaran Bahasa Arab bagi Orang Indonesia Berdasarkan Hasil Analisis Kontrastif Kalimat dalam Sintaksis Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia”. Fokus penelitian ini adalah persamaan dan perbedaan sintaksis bahasa Indonesia dan bahasa Arab dan juga pembelajaran bahasa Arab berdasarkan hasil analisis kontrastif kalimat dan sintaksis bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Jenis penelitian ini adalah library research dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil yang dia temukan adalah (1) kalimat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab dari segi unsur fungsi sintaksis sama-sama terdiri dan unsur subjek, predikat, dan objek. Akan tetapi susunan kalimat dalam bahasa Arab lebih kompleks jika digolongkan ke dalam kategori besar terbagi atas susunan jumlah ismiyah dan jumlah fiʻliyah; dan (2) metode pembelajaran yang cocok untuk mengajarkan kalimat dalam bahasa Arab adalah menggunakan pendekatan non-analisis yang berdasarkan psikolinguistik dengan metode pembelajaran Grammar Translation Method. Penelitian ini berkesimpulan bahwa metode pembelajaran yang cocok untuk mempelajari bahasa Arab adalah Grammar Translation Method (Al-Ṭarīqah al-Qawāʻid wa al-Tarjamah).

Menurut penulis, hasil dari penelitian Iin Kustiani tersebut masih berkutat dalam kajian teks berlandaskan library research sehingga belum menyentuh pembelajaran bahasa Arab itu sendiri. Sebab itu perlu diketahui bagaimana model pembelajarannya dan keefektifannya ketika diterapkan dalam pembelajaran bahasa Arab.

  • Hasil penelitian yang dilakukan oleh Enok Rohayati (2018) tentang “Analisis Kontrastif dalam Pembelajaran Bahasa Arab”. Fokus penelitian ini adalah perbedaan-perbedaan sistem bahasa Arab dengan bahasa Indonesia dan implikasinya terhadap metode pembelajaran bahasa Arab. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparatif. Penelitian ini berkesimpulan bahwa (1) perbedaan linguistik antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab menjadi sumber kesulitan dan kesalahan bagi pelajar bahasa Arab; dan (2) analisis kontrastif dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan sebuah alternatif yang ditawarkan untuk mengembangkan strategi pembelajaran.
Baca juga :  ANALISIS BUKU AJAR BAHASA ARAB

Menurut penulis, hasil penelitian Enok Rohayati tersebut belum menyentuh akar kesulitan dan kesalahan dari pelajar itu sendiri sehingga kebenaran dalam penelitiannya masih subjektif. Selain itu paparan yang disampaikan juga belum menggambarkan fokus yang dikaji sehingga masih menimbulkan tanda tanya khususnya pada implikasinya terdahap pembelajaran bahasa Arab. Semestinya perlu dikaji lebih detail lagi bagaimana penerapan analisis kontrastif dan korelasinya terhadap pembelajaran bahasa Arab.     

  • Hasil penelitian yang dilakukan oleh Irmansyah (2015) tentang “Taṭwīr Taʻlim Mādah al-Naḥw ʻalā Asās al-Taḥlīl al-Taqābulī baina al-Lugatain al-ʻArabiyyah wa al-Indonesia”. Fokus penelitian ini adalah mengembangkan materi nahwu berdasarkan analisis kontrastif untuk siswa kelas 2 tingkat pemula Ponpes Darul Falah Batu Malang. Metode penelitian ini menggunakan metode R&D. Hasil dari penelitian ini adalah (1) adanya enam judul pembahasan, yaitu kata dan kalimat, jenis kata benda, kata petunjuk, klausa nomina, klausa verbal, serta kalimat yang terdiri dari subjek, predikat, dan objek; dan (2) setelah dipraktikkan dalam kegiatan belajar-mengajar, materi yang dikembangkan dinilai efektif dalam membantu siswa dalam memahami pelajaran nahwu. Kesimpulan penelitian ini adalah 87.27% siswa menganggap bahwa buku ajar yang dikembangkan dirasa memudahkan untuk memahami materi dan memotivasi mereka dalam mempelajari bahasa Arab, khususnya dalam materi nahwu.

Menurut penulis, hasil penelitian Irmansyah tersebut masih terpaku pada satu tempat saja, yaitu di Ponpes Darul Falah Batu Malang yang subjek penelitiannya siswa kelas 2 tingkat pemula. Tentunya perlu dikaji lebih mendetail lagi dari berbagai medan dengan subjek dari kalangan mahasiswa untuk mengetahui bagaimana hasil dari implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif ini.

Rasional

Berdasarkan konteks penelitian sebagaimana yang dipaparkan di atas, secara general permasalahan penelitian (research problem) ini ingin mengungkap pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif yang diimplementasikan di PTKI se-Kabupaten Jember (IAIN Jember, STAI Al-Qodiri, dan IAI Al-Falah As-Sunniyyah).

Mengingat luasnya masalah yang dikaji dalam penelitian ini, penulis membatasi permasalahan penelitian ini dengan merumuskan fokus penelitian sebagai berikut:

  1. Bagaimana ruang lingkup linguistik kontrastif antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia? Secara lebih spesifik hal ini meliputi: (a) apa pengertian linguistik kontrastif dalam studi bahasa; (b) apa perbedaan dan persamaan struktur gramatika dasar bahasa Arab dan bahasa Indonesia; dan (c) bagaimana rumusan struktur gramatika dasar bahasa Arab.
  2. Bagaimana pemikiran tentang pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif? Secara lebih spesifik hal ini meliputi: (a) bagaimana konsep pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif; (b) bagaimana pola atau model pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif; dan (c) bagaimana format buku ajar dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif.
  3. Bagaimana implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se-Kabupaten Jember? Secara lebih spesifik hal ini meliputi: (a) bagaimana bentuk implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se- Kabupaten Jember; (b) bagaimana model pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se-Kabupaten Jember; dan (c) bagaimana bentuk buku ajar da­­lam pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se-Kabupaten Jember.
  4. Apa karakteristik pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se- Kabupaten Jember? Secara lebih spesifik hal ini meliputi: (a) apa persamaan pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se- Kabupaten Jember; dan (b) apa perbedaan pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se- Kabupaten Jember.

Hipotesis dari daftar pertanyaan di atas adalah:

  1. Akan ada sejumlah persamaan dan perbedaan yang signifikan antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia berdasarkan hasil analisis kontrastif. Hal ini disebabkan adanya keragaman karakteristik masing-masing bahasa yang mencerminkan kekayaan budaya antara budaya bahasa Indonesia dan budaya bahasa Arab.    
  2. Terbentuk konsep pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif berikut model dan format buku ajarnya sehingga akan menghasilkan model pembelajaran yang berbeda dengan model pembelajaran bahasa Arab yang lain.
  3. Pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se-Kabupaten Jember akan memberikan kemudahan bagi para pelajar dalam mempelajari bahasa Arab. Bisa jadi implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif tersebut menjadi role mode pembelajaran bahasa Arab. Para pelajar akan memiliki kompetensi dalam bahasa Arab khususnya dalam komunikasi lisan maupun tulisan karena mereka memiliki motivasi dalam belajar bahasa Arab.
  4. Implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se-Kabupaten Jember yang di antaranya dilakukan di IAIN Jember, STAI Al-Qodiri, dan IAI Al-Falah As-Sunniyyah akan memiliki karakteristik masing-masing. Di antara karakteristik itu adalah adanya persamaan dan perbedaan pada proses belajar pada masing-masing PTKI tersebut. Hal ini akan memberikan gambaran yang jelas terkait  implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif.

Metode dan Desain

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif karena peneliti ingin menggambarkan atau melukiskan fakta-fakta, keadaan, atau gejala yang tampak dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se-Kabupaten Jember. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang menggambarkan atau melukiskan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta sebagaimana adanya (Nawawi dan Martini, 1996, 73). Sedangkan tujuan dari penelitian deskriptif kualitatif ini berusaha mendeskripsikan seluruh gejala atau keadaan yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Mukhtar, 2013, 28).

Baca juga :  PROPOSAL DESERTASI

Desain penelitian dalam penelitian ini menggunakan studi multi-kasus (multiple case study). Menurut pendapat Baxter dan Jack (2008) dalam penelitian studi multi-kasus, peneliti melakukan penelitian terhadap sejumlah kasus untuk memahami persamaan dan perbedaan antar kasus yang diteliti. Pendapat tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan Yin (2003) bahwa tujuan studi multi-kasus digunakan untuk mereplikasi temuan dalam kasus yang kemudian ditarik perbandingan. Dia menambahkan bahwa desain studi multi-kasus dipakai untuk memprediksi hasil yang serupa (replikasi literal) atau memprediksi hasil yang kontras tetapi dengan alasan yang dapat diprediksi (replikasi teoritis).

Demikian juga dengan penelitian ini, peneliti menggunakan desain penelitian studi multi-kasus untuk memungkinkan peneliti menemukan persamaan dan perbedaan implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif di PTKI se-Kabupaten Jember (IAIN Jember, STAI Al-Qodiri, dan IAI Al-Falah As-Sunniyyah)

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokomentasi, observasi, dan wawancara. Teknik dokumentasi yang dimaksud di sini adalah mendokumentasikan semua proses penelitian dari awal kali seperti melakukan analisis kontrastif antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia sampai terakhir kali yaitu penyimpulan.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini juga disertai dengan observasi terhadap partisipan. Marshall menyatakan bahwa melalui observasi peneliti belajar mengenai perilaku subjek penelitian dan makna dari perilaku tersebut (Sugiyono, 2012, 310).

Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in-depth interview) di mana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dalam kehidupan subjek. Peneliti melakukan wawancara secara semi terstruktur agar wawancara yang dilakukan lebih terarah namun tidak bersifat kaku sehingga subjek dapat mengungkapkan pikiran dan perasannya dengan terbuka.

Data dalam penelitian ini akan dianalisis dengan cara reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesumpulan (conclusion drawing verification) yang dilakukan secara bersamaan. Langkah-langkah analisis data pada penelitian ini mengukuti skema yang dibuat oleh Miles dan Hubermen.

Gambar 1.1

Komponen analisis data Miles dan Huberman (Sugiono, 2012, 247)

Menurut pandangan Miles dan Hubermen (1992), reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data, termasuk pula memilih dan meringkas dokumen yang relevan. Mereka juga membatasi penyajian data sebagai sekumpulan informasi tersusun untuk kemudian adanya penarikan kesimpulan yang dirancang guna menyajikan informasi secara tematik dan terpadu kepada pembaca. Sedangkan penarikan kesimpulan menurut mereka merupakan sebagai konfigurasi yang utuh. Kesimpulan diverifikasi selama penelitian berlangsung. Data yang diperoleh akan dikategorikan, dicari polanya, kemudian ditarik kesimpulan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus hingga keseluruhan data yang dibutuhkan terkumpul.

Signifikasi dan Kesimpulan

  1. Signifikasi

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

  1. Secara teoritis; terbentuk role mode pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif.
  2. Secara praktis, pembelajaran bahasa Arab berbasis linguistik kontrastif dalam penelitian ini dapat:
  3. Dijadikan bahan meningkatkan kompetensi bahasa Arab para mahasiswa PTKI.
  4. Dijadikan salah satu alternatif dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Arab di semua jenjang pendidikan, khususnya di PTKI.
  5. Memberikan pengalaman dan pengayaan pengetahuan sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan penelitian-penelitian lanjutan yang berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab.
  6. Dijadikan bahan pertimbangan untuk mengembangkan buku ajar dan model pembelajaran bahasa Arab pada berbagai jenjang pendidikan khususnya di PTKI.
  • Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini akan membuktikan bahwa melalui linguistik kontrastif akan dapat diketahui segi-segi yang berbeda dari bahasa Arab dan bahasa Indonesia. Temuan ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki pembelajaran bahasa Arab yang ada di PTKI dengan memanfaatkan rumus-rumus yang dikembangkan untuk membantu para mahasiswa menggunakan bahasa Arab. Selain itu, pembelajaran bahasa Arab dengan memanfaatkan linguistik kontrastif akan dapat meningkatkan motivasi mahasiswa PTKI dalam mempelajari bahasa Arab.

Daftar Pustaka

Baxter, P., & Jack, S. (2008). Qualitative case study methodology: Study design and implementation for novice researchers. The Qualitative Report, 13(4), 544-559.

Denscombe, M. (2007). The good research guide: For small-scale social research projects (3rd ed.). Maidenhead: Open University Press.

Di Pietro, Robert J. (1970). Contrastive analysis and the notion of deep and surface structure grammar. Washington, DC: Georgetown University.

Nawawi, Hadari, & Martini, Murni. (1966). Penelitian terapan (2nd ed.). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Irmansyah. (2015). Taṭwīr taʻlim mādah al-naḥw ʻalā asās al-taḥlīl al-taqābulī baina al-lugatain al-ʻarabiyyah wa al-indonesia. Tesis. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.

Kustiani, Iin. (2015). Pembelajaran bahasa arab bagi orang indonesia berdasarkan hasil analisis kontrastif kalimat dalam sintaksis bahasa arab dan bahasa indonesia. Skripsi. Purwakerto: STAIN Purwokerto.

Lado, Robert. (1957). Linguistics across cultures: Applied linguistics for language teachers. An Arbor: University of Michingan Press.

Langacker, Ronald. (1968). Foundation of language. Washington, DC: Georgetown University.

Miles, B.M., & Huberman, M. (1992). Analisis data kualitatif (Tjetjep Rohedi Rosidi, Penerjemah.). Jakarta: Universitas Indonesia.

Mukhtar. (2013). Metode penelitian deskriptif kualitatif. Jakarta: GP Press Group.

Nur, Tajudin. (2016). Analisis kontrastif dalam studi bahasa. Journal of Arabic Studies,  Vol. 1 No. 2, Desember, 64-74.

Richard, Jack. (1989). Longman dictionary of applied linguistics. London: Longman.

Rohayati, Enok. (2018). Analisis kontrastif dalam pembelajaran bahasa arab. Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban, Vol 4 No 2, Desember, 105-117.

Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tu‘aymah, Rusydī Aḥmad. (1986). Al-marja’ fī ta’līm al-lugah al-‘arabiyyah. Makkah: Jāmi’ah Ummi al-Qurā.  

___________. (1989). Taʻlīm al-ʻarabiyyah li ghair al-naṭiqīn bihā: Manāhijuhu wa asālībuhu. Al-Ribāṭ: ISESCO.

‘Ushaily, al, Ibrāhīm. (2002). Ṭarāiq al-tadrīs al-lugah al-‘arabiyyah li al-nāṭiqīn bi lugāt al-ukhrā. Riyāḍ: Jāmi’ah al-Imām Muḥammad bin Sa’ūd al-Islāmiyyah.

Yin, Robert K. (2003). Case study research: Design and methods (3rd ed.). Sage: Thousand Oaks.

Ikuti kami