PROPOSAL DESERTASI


ditulis oleh :  
  |   (pba.inaifas.ac.id | diposting - 9 bulan lalu)
0 Comments
0

PEMBELAJARAN KOMPETENSI BAHASA ARAB BERBASIS STUDENT-CENTERED LEARNING (SCL)

Penerapan Pembelajaran Kompetensi Bahasa Arab Berbasis SCL di Prodi PBA STAI Al Falah As Sunniyyah (STAIFAS) Kencong Jember

FINA AUNUL KAFI, M.Pd.I

STAI Al Falah As Sunniyyah (STAIFAS) Kencong Jember

  • PENDAHULUAN

Dalam mempelajari bahasa Arab mahasiswa diharapkan mampu menguasai kompetensinya, yaitu mendengar (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah) dengan baik. Selain itu, mahasiswa juga mampu menerapkan kompetensi tersebut dalam wujud komunikasi bahasa Arab tanpa melalui terjemah dahulu ke bahasa ibu atau sebaliknya. Dalam arti lain, mahasiswa lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Arab laiknya menggunakan bahasa ibu mereka. Untuk mewujudkan goal itu, model pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi diformat sedemikian rupa agar mencapai tujuan tersebut.

Seiring perkembangan paradigma pembelajaran, saat ini pembelajaran kompetensi bahasa Arab rerata masih berkutat pada Teacher-Centered Learning (TCL). Monopoli pembelajaran kompetensi oleh pengajar ini tampak pada pembelajaran mendengar di dalam lab bahasa yang komunikasinya hanya searah, antara mahasiswa dan pengajarnya, dan untuk interaksi antar mahasiswa dipisah oleh bangku khusus. Dalam pembelajaran kompetensi lain juga ditemukan jenis TCL yang baragam. Misalnya dalam kompetensi berbicara, pengajar masih terlalu banyak berperan dalam keikutsertaan berbicara daripada mahasiswanya. Di lain sisi, pada kompetensi membaca dan menulis, pengajar masih melibatkan materi kaidah yang deskripsinya menelan mayoritas porsi waktu untuk mempelajari kompetensi itu sendiri.

Kepasifan mahasiswa tersebut bisa mengakibatkan mereka kurang berperan aktif dalam mempelajari kompetensi. Selain menjadikan motivasi mereka rendah, model TCL juga menyebabkan ketidakberhasilan mahasiswa karena sedikit ruang bagi mereka untuk mengkreasikan bahasa Arab yang dipelajari. Alhasil, pembelajaran kompetensi bahasa Arab yang berlangsung lama tidak menunjukkan out put capaian pembelajaran yang dituju.

Mempelajari kompetensi yang terfokus pada mahasiswa akan lebih mengaktifkan mereka dalam menggunakan bahasa Arab. Paling tidak 90% dari waktu studi di kelas didominasi oleh mahasiswa daripada pengajar. Pembalikan ini akan berdampak positif menimbang kemampuan mahasiswa akan terasah dengan baik lantaran dipraktikkan terus-menerus dan mereka berperan aktif dalam interaksi menggunakan bahasa Arab.

Melihat hal itu maka peneliti tertarik untuk menyusun proposal desertasi berdasarkan masalah tersebut dengan judul “Pembelajaran Kompetensi Bahasa Arab Berbasis Student-Centered Learning (SCL)”. Dalam desertasi ini nantinya akan dijelaskan bagaimana pembelajaran kompetensi bahasa Arab berbasis SCL di prodi PBA STAIFAS Kencong Jember.

Secara umum desertasi ini akan mendeskripsikan pembelajaran bahasa Arab berbasis SCL. Secara khusus pembahasannya sebagai berikut:

  1. Mendeskripsikan pembelajaran bahasa Arab
  2. Mendeskripsikan kompetensi bahasa Arab
  3. Mendeskripsikan Student-Centered Learning (SCL)
  4. Mendeskripsikan keterkaitan SCL dan pembelajaran kompetensi bahasa Arab
  5. Mendeskripsikan penerapan SCL dalam pembelajaran kompetensi bahasa Arab di STAIFAS Kencong Jember
  6. Mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan SCL dalam pembelajaran kompetensi bahasa Arab di STAIFAS Kencong Jember
  • REVIEW LITERATUR
Baca juga :  ANALISIS BUKU AJAR BAHASA ARAB

Beberapa dekade yang lalu para ahli bahasa mencermati pertumbuhan bahasa manusia. Mereka  menyimpulkan bahwa manusia memperoleh bahasanya melalui urutan tahap dari mendengar, berbicara, membaca, dan terakhir menulis dalam kurun waktu tertentu. Urutan ini kemudian diadopsi dalam linguistik terapan khususnya dalam ranah pembelajaran bahasa yang disebut dengan kompetensi linguistik. Ushaily menjelaskan bahwa mengelola empat kompetensi ini bisa mewujudkan kompetensi linguistik yang menjadi tujuan utama belajar bahasa. [1]

Penguasaan terhadap kompetensi linguistik ini selanjutnya menjadi tolak ukur kemajuan mahasiswa dalam mempelajari kompetensi bahasa, termasuk kompetensi bahasa Arab, karena kemampuan empat kompetensi itu dapat digunakan dalam komunikasi dengan penutur bahasa asli.

Terkait pembelajaran bahasa, kompetensi tersebut melebur dalam tujuan sejumlah metode yang lazim dalam pembelajaran bahasa Arab, seperti natural method, direct method, reading method, dan audiolingual method. Namun, dalam metode-metode tersebut terdapat beberapa kompetensi yang diutamakan sedangkan lainnya dikesampingkan, dan dalam praktiknya pengajar tetap sebagai pusat yang mendominasi pembelajaran di kelas atau dia mendapat arahan instruksional dari buku ajar.

Sutrisno dan Suyadi berpendapat bahwa perubahan paradigma pembelajaran di perguruan tinggi harus dibalik, yakni dari satu arah ke multi arah atau setidaknya berpusat pada mahasiswa. Dengan pola ini, capaian pembelajaran dapat dicapai secara terukur.[2] TCL untuk zaman ini tetap ada bentuknya dengan model yang bervariasi, padahal pembelajaran berbasis TCL sudah banyak ditentang karena memperlambat kemampuan mahasiswa dalam belajar kompetensi bahasa Arab.

Selanjutnya, Sutrisno dan Suyadi menuturkan bahwa perubahan pendekatan dalam pembelajaran dari TCL menjadi SCL adalah perubahan paradigma, yaitu perubahan dalam cara memandang beberapa hal dalam pembelajaran, yakni a) pengetahuan, dari pengetahuan yang dipandang sebagai sesuatu yang sudah tinggal ditransfer dari dosen ke mahasiswa, menjadi pengetahuan yang dipandang sebagai hasil konstruksi atau hasil transformasi oleh pembelajaran, b) belajar, dari menerima pengetahuan (pasif-reseptif) menjadi belajar sebagai mencari dan mengkonstruksi pengetahuan (aktif dan spesifik), c) pembelajaran, dari dosen menyampaikan pengetahuan menjadi dosen berpartisipasi bersama mahasiswa membentuk pengetahuan.

Perubahan paradigma tersebut membawa konsekuensi terhadap perubahan prinsip-prinsip pembelajaran, yang di antaranya adalah : (1) memandang pengetahuan sebagai satu hal yang belum lengkap, (2) memandang proses belajar sebagai proses untuk merekonstruksi dan mencari pengetahuan yang akan dipelajari; serta (3) memandang proses pembelajaran bukan sebagai proses pengajaran (teaching) yang dapat dilakukan secara klasikal, dan bukan merupakan suatu proses untuk menjalankan sebuah intruksi buku yang telah dirancang.[3]

Penelitian SCL dalam bahasa Inggris pernah dilakukan oleh Mohammad Zohrabi dengan judul Teacher-centered and/or Student-centered Learning: English Language in Iran. Penelitian ini berjenis studi eksperimen antara TCL dan SCL dalam pembelajaran gramatika bahasa Inggris pada SMP di Tabriz Iran. Mohammad Zohrabi menyimpulkan bahwa implementasi kegiatan SCL dalam domain komunikatif lebih menarik bagi pengajar dan peserta didik.[4] Hasil penelitian tersebut memiliki kesamaan pada desertasi yang akan dilakukan ini, yaitu adanya SCL. Namun ada sejumlah perbedaan mencolok, misalnya objek studi pada penelitian tersebut pada gramatika bahasa Inggris. Selain itu metode yang digunakan adalah eksperimen, subjek penelitian pelajar setingkat SMP, dan lokasinya di Iran. Penelitiannya bertujuan untuk melihat situasi antara model TCL dan SCL dengan memperbandingkannya dalam pembelajaran gramatika bahasa Inggris. Namun perlu diketahui penerapan SCL pada gramatika pasti berbeda dengan kompetensi bahasa, khususnya bahasa Arab yang memiliki karakteristik berbeda dengan bahasa lain. Oleh karena sebab itu perlu penelitian tersendiri terkait penerapan SCL yang terfokus pada pembelajaran kompetensi bahasa Arab.

Baca juga :  ANALISIS BUKU AJAR BAHASA ARAB

Selain itu, ada juga penelitian lain yang membahas pembelajaran menggunakan model SCL. Misalnya penelitiannya Ariani Tanjung yang berjudul Pembuatan Model Pembelajaran Bahasa Jepang melalui Implementasi SCL Berbasis Multimedia. Proses penelitian selama 2 tahun tersebut fokus pada multimedia dan peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran yang menggunakan Macromedia Flash akan lebih dinamis dan lebih efektif.[5] Pembahasan dalam penelitian itu kurang mendalam dan kurang mencermati proses pemerolehan bahasa serta penggunaan multimedia membutuhkan biaya yang sangat besar dan kurang cocok untuk diterapkan pada perguruan tinggi yang minim fasilitas.

Di lain konsentrasi studi bahasa, penelitian tentang SCL ini juga pernah ditulis oleh Zulvia Trinova dengan judul Pembelajaran Berbasis Student-Centered Learning pada Materi Pendidikan Agama Islam. Penelitian yang diunggah di laman DOAJ ini menyimpulkan bahwa SCL merupakan salah satu model pembelajaran alternatif yang dapat mengaktifkan mahasiswa. Model pembelajaran tersebut lebih dapat membuat mahasiswa berpartisipasi aktif, bertanggungjawab, dan memulai kebutuhan belajarnya.[6] Penelitian tersebut masih menggambarkan SCL secara umum dan pada desertasi ini akan dicari tahu bagaimana penerapannya dalam pembelajaran kompetensi bahasa Arab.

Mencemati paparan di atas sudah jelas kiranya bahwa pembelajaran kompetensi bahasa membutuhkan cara terbaru sehingga dapat mendongkrak kemampuan mahasiswa. Perubahan model pembelajaran dari TCL ke SCL dalam mempelajari kompetensi bahasa Arab dapat membuat mahasiswa mampu memaksimalkan potensinya. Diharapkan dari perubahan model tersebut mahasiswa memposisikan dirinya menjadi pelajar yang aktif untuk memperoleh kompetensi bahasa Arab dan mampu mengaplikasikannya dalam komunikasi.

  • RASIONAL

Dengan memperhatikan pendahuluan dan review literatur tersebut, maka dirumuskan daftar pertanyaan spesifik yang akan dicoba untuk dijawab dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Apa pembelajaran bahasa Arab?
  2. Apa kompetensi bahasa Arab?
  3. Apa SCL itu?
  4. Bagaimana keterkaitan SCL dan pembelajaran kompetensi bahasa Arab?
  5. Bagaimana penerapan SCL dalam pembelajaran kompetensi bahasa Arab di STAIFAS Kencong Jember?
  6. Apa kelebihan dan kekurangan SCL dalam pembelajaran kompetensi bahasa Arab di STAIFAS Kencong Jember?
  • METODE DAN DESAIN
Baca juga :  ANALISIS BUKU AJAR BAHASA ARAB

Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian ini akan dilakukan di prodi PBA STAIFAS Kencong Jember. Objek penelitian ini adalah mahasiswa prodi PBA. Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui (1) wawancara mendalam (indept interview) kepada 10% dari populasi mahasiswa prodi PBA yang mengikuti mata kuliah kompetensi bahasa Arab dan (2) observasi dalam kegiatan pembelajaran kompetensi bahasa Arab pada tahun ajar 2018/2019. Informasi kunci lainnya adalah dosen yang mengajar kompetensi bahasa Arab. Sumber data primer berasal dari Rancangan Pembelajaran Semester (RPS), buku ajar/diktat, dan nilai pembelajaran kompetensi bahasa Arab. Sedangkan data sekunder didapat dari sejumlah buku, jurnal, atau hasil penelitian lainnya. Dalam membahas hasil penelitian, peneliti akan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengkaji hasil penelitian berdasarkan teori-teori dan penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian.

  • SIGNIFIKANSI DAN KESIMPULAN
  • SIGNIFIKANSI
  • Manfaat teoritis

Penelitian ini memiliki beberapa manfaat teoritis. Di antaranya yaitu:

  1. Untuk mengembangkan strategi pembelajaran kompetensi bahasa Arab.
  2. Untuk menambah khasanah pembelajaran kompetensi bahasa Arab.
  3. Untuk menemukan format terbaru dalam pembelajaran kompetensi bahasa Arab yang baik dan relevan.
  • Manfaat praktis

Adapun manfaat praktisnya yaitu:

  1. Bagi peneliti dan pembaca pada umumnya, hasil penelitian ini memberi paradigma baru tentang pembelajaran kompetensi bahasa Arab.
  2. Bagi mahasiswa, hasil penelitian ini memberi pemahaman komprehensif terkait pembelajaran kompetensi bahasa Arab.
  3. Bagi pemerhati pembelajaran, hasil penelitian ini menyumbang pemikiran khususnya dalam pembelajaran kompetensi bahasa Arab.
  4. Bagi dosen, hasil penelitian akan membantu memudahkan proses pembelajaran kompetensi bahasa Arab.
  5. Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian ini dapat diterapkan sebagai model pembelajaran kompetensi bahasa Arab.
  6. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan penyusunan buku ajar bahasa Arab secara nasional terkait kompetensi bahasa Arab.
  • DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Umar Shadiq. 2008. Ta’lim al Lughah al ‘Arabiyah li an Nathiqin bi Ghairiha. Al Khurtum: Ad Dar al ‘Alamiyah.

Best, W., John. 1982. Metode Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Creswell, W., John. 2010. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Naqah, Mahmud Kamil, an & Rusydi Ahmad Tu’aimah. 1983. Al Kitab al Asasi li Ta’limi al Lughah al ‘Arabiyah li an Nathiqin bi Lughati al Ukhra. Makkah: Jami’ah Ummi al Qura.

Sayyid, Mahmud Ahmad. 1997. Fi Tharaiqu Tadrisi al Lughah al ‘Arabiyah. Damaskus: Jami’ah ad Damask.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sutrisno & Suyadi. 2016. Desain Kurikulum Perguruan Tinggi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tu’aimah, Rusydi Ahmad. 1985. Dalil ‘Amali fi I’dadi al Mawad at Ta’limiyah li Baramij Ta’limi al Arabiyah. Makkah: Jami’ah Ummi al Qura.

___________ . 1985. Al Marja’ fi Ta’limi al Lughah al ‘Arabiyah. Makkah: Jami’ah Ummi al Qura.

‘Ushaily, al, Ibrahim. 2002. Tharaiq at Tadris al Lughah al ‘Arabiyah li an Natiqin bi Lughat al Ukhra. Riyadl: Jami’ah al Imam Muhammad bin Sa’ud al Islamiyah.


[1] Ibrahim al Ushaily, Tharaiq at Tadris al Lughah al Arabiyah li an Natiqin bi Lughat al Ukhra, (Riyadh: Jami’ah al Imam Muhammad bin Suud al Islamiyah, 2002), hal., 17.

[2] Sutrisno dan Suyadi, Desain Kurikulum Perguruan Tinggi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016), hal., 115.

[3] Ibid., hal., 143.

[4] Mohammad Zohrabi, “Teacher-centered and/or Student-centered Learning: English Language in Iran,” English Language and Literature Studies; Vol. 2, No. 3; pp. 18-30, 2012.

[5] Ariani Tanjung, “Pembuatan Model Pembelajaran Bahasa Jepang melalui Implementasi SCL Berbasis Multimedia,” Jurnal Arbitrer; Vol. 3, No. 2 Oktober, pp. 88-94, 2016.

[6] Zulvia Trinova, “Pembelajaran Berbasis Student-Centered Learning pada Materi Pendidikan Agama Islam,” Jurnal Al Ta’lim, Jilid 1, No. 4 Februari, pp. 324-335, 2013.

Ikuti kami